RayaNews

"Saya Berharap Beliau Jadi Ketua Umum..." Kata Gus Yahya Saat Bertemu Menkeu Purbaya

Tejo | Rabu, 22 Juli 2026 | 15:03 WIB | 7 dibaca

JAKARTA-RAYA: Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), setiap pertemuan para tokoh besar hampir selalu mengundang tafsir. Apalagi jika yang datang ke kantor pusat PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat adalah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Rabu (22/7).

Muktamar NU tinggal satu bulan lagi. Suhu politik organisasi terbesar di Indonesia itu mulai terasa. Wajar jika publik bertanya-tanya, apakah kunjungan seorang menteri ke PBNU sekadar silaturahmi, atau ada pembicaraan lain yang berkaitan dengan suksesi kepemimpinan.

Jawaban Dalam Bentuk senyuman

Ketika sesi wawancara hampir usai, seorang wartawan melontarkan pertanyaan yang sedari tadi menggantung di benak banyak orang: apakah ada pembicaraan mengenai Muktamar NU yang akan digelar Agustus mendatang?

Alih-alih menjawab serius, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf berseloroh ringan.

"Saya sebetulnya berharap beliau (sambil menepuk bahu Menkeu Purbaya) jadi Ketua Umum."

Kalimat itu sontak memecah suasana. Wartawan, pengurus PBNU, hingga Purbaya sendiri tertawa.

Candaan itu memang singkat. Namun di tengah atmosfer menjelang Muktamar NU, ucapan ringan tersebut cukup menjadi bumbu yang membuat pertemuan hari itu terasa berbeda.

Silaturahmi Lama yang Baru Terwujud

Di balik suasana cair itu, Purbaya memastikan kedatangannya sama sekali bukan membawa agenda politik organisasi. Ia mengaku sudah cukup lama tidak berkunjung ke PBNU sejak kepengurusan sebelumnya.

"Pertama silaturahmi. Saya sudah lama tidak ke NU. Dulu waktu pengurus sebelumnya saya sering datang ke sini. Waktu itu belum jadi menteri, sekarang sudah jadi menteri datang ke sini lagi," katanya.

Untuk menegaskan bahwa bukan baru sekali datang ke PBNU, Purbaya kemudian mengomentari perubahan fisik Gedung PBNU.

"Kesan pertama saya pas ke sini lagi, gedungnya sudah berubah. Dulu agak kelam, sekarang terang benderang, modern. Saya senang sekali," ujarnya ringan. 

Pernyataan itu kembali mengundang senyum para pengurus yang hadir.

Dari Ekonomi Umat hingga Investasi Global

Setelah suasana mencair, pembicaraan bergeser ke hal yang lebih substantif. Gus Yahya menjelaskan, NU saat ini tengah memperluas kiprah organisasi, tidak hanya di bidang pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial, tetapi juga memasuki sektor bisnis, investasi, hingga kerja sama dengan berbagai mitra internasional.

Karena itu, PBNU membutuhkan arahan dari Kementerian Keuangan agar seluruh langkah organisasi tetap berada dalam koridor tata kelola dan regulasi negara.

"Kami berdiskusi bagaimana jaringan NU bisa dimanfaatkan sebagai channel pemerintah menyampaikan program-programnya. Kami juga sedang mengembangkan bisnis dan investasi sampai entitas internasional. Karena itu kami meminta arahan Menteri Keuangan mengenai langkah-langkah yang harus dijalani," ujar Gus Yahya.

Purbaya kemudian membalas dengan gurauan. "Pak Ketua hanya minta arahan, soalnya sudah banyak duit dia."

Dalam hitungan detik, ruang konferensi pers berubah menjadi penuh gelak tawa.

Bagi pemerintah, jaringan NU yang menjangkau hingga tingkat desa merupakan modal sosial yang sangat besar untuk mempercepat penyebaran berbagai program pembangunan.

Sampah yang Bernilai Ekonomi

Salah satu ide yang cukup menarik perhatian Purbaya adalah proyek pengolahan sampah yang tengah dirintis NU. Menurutnya, program tersebut layak didukung karena mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni lingkungan dan ekonomi.

Sampah tidak lagi berhenti menjadi limbah, melainkan dapat diolah menjadi pupuk maupun material bangunan yang memiliki nilai tambah.

"Ada beberapa gagasan yang mungkin pemerintah bisa mendukung karena tujuannya baik. Salah satunya pengolahan sampah menjadi pupuk dan bahan bangunan. Kalau pemerintah bisa membantu, saya pikir proyeknya bisa berjalan lebih lancar," ujar Purbaya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa fokus utama pertemuan adalah kolaborasi pembangunan, bukan dinamika politik internal organisasi.

Sementara sekitar satu bulan lagi, Nahdlatul Ulama akan menggelar Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Forum lima tahunan itu merupakan musyawarah tertinggi organisasi yang akan menentukan arah kebijakan NU untuk lima tahun mendatang, termasuk memilih kepemimpinan baru apabila mekanisme organisasi menghendakinya.

Karena itulah, hampir setiap pertemuan elite PBNU menjelang muktamar kerap dikaitkan dengan dinamika suksesi.

Muktamar ke-35 akan dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, pesantren bersejarah yang didirikan salah seorang pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah. Forum tersebut rencananya akan dibuka langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.***

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait