Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi Kokoh Meski AS-Iran Memanas
JAKARTA-Raya: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat menghadapi potensi gejolak global menyusul kembali memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski mengakui lonjakan harga minyak dunia dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah, Purbaya meminta masyarakat tidak bereaksi berlebihan.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Rabu (22/7). Pertemuan berlangsung ketika pasar global kembali dibayangi ketidakpastian akibat gagalnya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran yang memicu kenaikan harga energi dunia.
Menurut Purbaya, perang AS-Iran memang menjadi salah satu faktor eksternal yang terus dipantau pemerintah karena berpotensi memengaruhi harga minyak mentah, nilai tukar, hingga ruang fiskal negara. Namun, ia menilai kondisi ekonomi nasional masih memiliki daya tahan yang cukup baik untuk menghadapi tekanan tersebut.
"Belum ada perubahan kebijakan fiskal, cuma saya khawatir harga minyak akan terlalu tinggi, sehingga ruang fiskal untuk memberikan stimulus menjadi lebih terbatas," kata Purbaya kepada wartawan.
Ia menjelaskan, dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah sebelumnya menggunakan asumsi harga minyak sekitar US$ 100 per barel. Harga minyak sempat turun ke kisaran US$ 70 per barel, setelah adanya gencatan senjata sementara. Situasi itu membuat pemerintah memperoleh ruang fiskal tambahan yang kemudian dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program ekonomi.
"Tadinya ketika harga minyak turun ke 70, sementara anggaran kita hitung 100, ada ruang anggaran lebih yang bisa dipakai untuk pembangunan ekonomi. Sekarang kalau harga minyak naik lagi, tentu saya harus lebih hati-hati lagi," ujarnya.
Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah belum melihat kebutuhan untuk mengubah arah kebijakan fiskal secara drastis. Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi periode harga minyak yang jauh lebih tinggi dan tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi.
"Kalau harga minyak kembali tinggi, masyarakat tidak perlu terlalu resah. Sebelumnya saat harga minyak tinggi pun kita tetap bisa tumbuh dengan baik. Pondasi ekonomi kita cukup kuat," katanya.
Menurut Purbaya, optimisme tersebut didasarkan pada struktur ekonomi Indonesia yang selama ini lebih banyak ditopang oleh permintaan domestik (domestic demand) dibandingkan ketergantungan terhadap ekspor.
"Kenapa? Karena pondasi ekonomi kita didorong oleh domestic demand, termasuk konsumsi masyarakat warga NU, dan seluruh masyarakat Indonesia," tuturnya.
Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Pernyataan Menteri Keuangan muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Setelah sempat tercapai kesepakatan penghentian sementara aksi militer, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali runtuh pada awal Juli 2026.
Sejumlah media internasional arus utama melaporkan konflik kembali meningkat setelah kedua pihak saling melancarkan serangan terhadap target militer di kawasan Teluk. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu koridor utama distribusi minyak global.
Perkembangan terbaru juga memicu kenaikan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan internasional. Sejumlah lembaga keuangan global memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat memperbesar risiko inflasi serta memperlambat pemulihan ekonomi dunia.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan tekanan terhadap belanja subsidi energi, biaya impor minyak, hingga ruang fiskal pemerintah. Namun demikian, pemerintah menegaskan kondisi fiskal nasional masih berada dalam posisi yang terkendali.
Pertemuan Purbaya dengan Ketua Umum PBNU juga dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat optimisme masyarakat di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pemerintah berharap daya beli masyarakat tetap terjaga sehingga konsumsi domestik terus menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah ketidakpastian geopolitik tersebut, pemerintah memastikan akan terus memantau perkembangan konflik internasional sekaligus menyiapkan berbagai langkah antisipasi agar stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga.***
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.