RayaNasional

8 Nama Calon Ketua Umum PBNU Mencuat Jelang Muktamar Jombang 2026, Siapa Mereka?

Fahmi | Selasa, 21 Juli 2026 | 09:45 WIB | 13 dibaca

JAKARTA - RAYA: Sejumlah nama tokoh mulai bermunculan sebagai calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 di Jombang, 27-31 Agustus mendatang. Nama-nama tersebut merupakan nama populer yang sudah banyak dikenal masyarakat, khususnya kalangan warga nahdliyin.

Saat ini, setidaknya ada delapan nama yang mencuat pada ajang lima tahunan tersebut. Mereka adalah Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Menteri Agama Nasaruddin Umar, Bendahara Umum PBNU Gudfan Arif, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta KH Abdussalam Shohib (Gus Salam).

Ketua Bidang Hukum dan Media PBNU Moh Mukri menyebut banyak nama yang mencuat menjelang muktamar merupakan hal yang wajar. Menurutnya, dinamika tersebut mencerminkan sehatnya proses demokrasi di lingkungan Nahdlatul Ulama.

 "Ada banyak yang ingin maju menjadi Ketua Umum, ya biasalah. Itu justru sekaligus penampakan adanya demokrasi, ada penyampaian aspirasi," katanya, dikutip dari NU Online (20/7).

Lantas, siapa yang unggul? Mukri menyatakan, saat ini belum ada figur yang benar-benar unggul dalam perolehan dukungan. Menurutnya, nama calon masih dinamis dan belum mengerucut ke calon yang kuat. 

"Bisa saja terjadi koalisi dari nama-nama yang muncul. Ia mengatakan, konfigurasi dukungan masih sangat dinamis dan berpotensi berubah hingga forum muktamar berlangsung. Hal itu karena proses penjaringan calon baru akan dilakukan secara resmi pada saat pelaksanaan muktamar," jelasnya.

Berdasarkan mekanisme organisasi, lanjutnya, setiap bakal calon Ketua Umum PBNU harus memperoleh sedikitnya 99 dukungan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) maupun Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) agar dapat ditetapkan sebagai calon.  

"Belum bisa diprediksi siapa kandidat yang memiliki peluang paling besar untuk memimpin PBNU," ungkapnya.  

Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa mengaku tidak memiliki ambisi pribadi untuk menjadi ketua umum PBNU. Namun, Kiai Zulfa menegaskan tidak akan menolak jika pencalonan dirinya merupakan aspirasi dari para pengurus NU di daerah.

"Kalau aspirasi dari cabang dan wilayah meminta, itu sangat kuat. Saya tidak bisa menolak," ujar Kiai Zulfa.

Logo Muktamar 35 NU Dirilis

PBNU telah menetapkan logo Muktamar Ke-35 NU. Logo tersebut merupakan karya M Shofa Ulum Azmi, alumnus Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Shofa Ulum Azmi menyatakan, ide desain visual tersebut berawal dari sebuah sketsa sederhana yang kemudian berkembang menjadi simbol harmoni kepemimpinan di dalam tubuh NU.

"Logo ini berawal dari sketsa kasar yang kemudian membentuk dua lingkaran sebagai konstruksi utamanya. Saya memaknai dua lingkaran itu sebagai simbol Syuriah dan Tanfidziyah yang berjalan selaras dalam mengemban khidmah Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Terpilihnya karya alumnus Langitan ini sekaligus mengingatkan kembali pada hubungan historis yang kuat, di mana dua tokoh utama pendiri NU, Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah, merupakan murid dari Pengasuh periode kedua Ponpes Langitan KH Ahmad Sholeh.

Tradisi pengabdian tersebut kemudian diteruskan secara turun-temurun oleh para pengasuh pesantren berikutnya, mulai dari KH Muhammad Khozin pada masa awal NU, KH Abdul Hadi Zahid, hingga KH Abdullah Faqih yang pernah dipercaya menjadi Mustasyar PBNU.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU KH Ma'shum Faqih menilai terpilihnya logo ini membuktikan bahwa pesantren yang terletak di Kecamatan Widang tersebut terus melahirkan kontribusi nyata bagi jam'iyah dalam berbagai bidang, termasuk melalui karya kreatif generasi alumnusnya.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Ma'shum ini, khidmah kepada NU tidak selalu diwujudkan melalui jabatan struktur organisasi, melainkan dapat dituangkan melalui pemikiran, inovasi, dan kreativitas yang membawa manfaat luas bagi seluruh warga nahdliyin.

"Khidmah kepada NU tidak selalu diwujudkan melalui jabatan. Karya, pemikiran, inovasi, dan kreativitas yang membawa manfaat bagi organisasi juga merupakan bagian dari pengabdian. Semoga semangat itu terus hidup dan menginspirasi generasi muda nahdliyin," kata dia.

Filosofi Logo Muktamar ke-35 NU

Logo Muktamar berbentuk lengkungan yang membentuk angka 3 dan 5 pada logo dirancang menyerupai dua lingkaran yang saling terhubung. Bentuk tersebut melambangkan kesinambungan, persatuan, dan harmoni dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

Secara filosofis, lingkaran tidak memiliki titik awal maupun akhir sehingga melambangkan nilai-nilai perjuangan NU yang terus berlanjut dari generasi ke generasi. 
Semangat dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada umat tidak pernah terputus, melainkan terus diwariskan sebagai mata rantai perjuangan para ulama. Bentuk melingkar juga mencerminkan prinsip merangkul, bukan memisahkan.

Lebih lanjut dijelaskan, gerak melingkar pada logo memberikan kesan dinamis dan terus bergerak maju. Hal itu melambangkan NU sebagai organisasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah serta tradisi pesantren yang menjadi fondasinya.

Keseluruhan bentuk lingkaran ini menjadi simbol bahwa Muktamar Ke-35 merupakan ruang pemersatu seluruh elemen Nahdlatul Ulama untuk memperkuat konsolidasi dan menjaga kesinambungan perjuangan ulama.

 Sementara itu, pada bagian tengah logo terdapat ilustrasi menara berkubah emas yang merupakan ikon Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Elemen tersebut menjadi identitas tuan rumah Muktamar Ke-35 NU sekaligus melambangkan pusat ilmu, dakwah, dan peradaban Islam. Posisi menara berada di pusat logo sebagai lambang bahwa pesantren tetap menjadi poros peradaban Nahdlatul Ulama. 

 

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait