RayaAnalisis

Hambalang Boys dan Taruna Nusantara, Membaca Prabowo Melalui Teori "Trust" Francis Fukuyama

Sudjito | Rabu, 22 Juli 2026 | 18:50 WIB | 7 dibaca

Oleh: Pimpinan Redaksi RayaTimes.id Dhimam Abror Djuraid

JAKARTA-RAYA: Penunjukan Sudaryono sebagai ketua Badan Gizi Nasional (BGN), menggantikan Nanik S Deyang, Rabu (22/7), menandai fenomena semakin banyaknya "anak-anak Prabowo" yang menduduki posisi strategis di pemerintahan.

Publik mafhum bahwa selama ini pembentukan Kabinet Merah Putih di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah memunculkan pola yang sama, yaitu menonjolnya sejumlah figur yang memiliki kedekatan personal dengan Prabowo. 

Sebagian di antaranya merupakan alumni SMA Taruna Nusantara yang pernah berinteraksi intensif dengan Prabowo. Lainnya dikenal sebagai kelompok "Hambalang Boys", yakni individu-individu yang telah lama menjadi bagian dari lingkaran politik, organisasi, maupun jaringan kepercayaan Prabowo sejak aktivitasnya di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang. 

Fenomena ini memunculkan pertanyaan mengenai dasar pemilihan elite pemerintahan, apakah didasarkan terutama pada meritokrasi, kompetensi, ataukah lebih pada tingkat kepercayaan personal (personal trust)? 

Untuk memahami fenomena tersebut, teori trust yang dikemukakan Francis Fukuyama memberikan kerangka analisis yang relevan. Dalam bukunya Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity (1995), Francis Fukuyama menjelaskan bahwa kepercayaan merupakan modal sosial (social capital) yang memungkinkan individu bekerja sama secara efektif di luar hubungan keluarga maupun kelompok dekat. 

Menurut Fukuyama, masyarakat dengan tingkat kepercayaan tinggi (high-trust society) mampu membangun organisasi yang kompleks, karena hubungan antarmanusia tidak selalu bergantung pada kedekatan personal. 

Sebaliknya, masyarakat dengan tingkat kepercayaan rendah (low-trust society) cenderung mengandalkan hubungan yang bersifat personal, kekerabatan, atau loyalitas terhadap kelompok tertentu sebagai dasar kerja sama.

Jika perspektif tersebut diterapkan pada pembentukan Kabinet Merah Putih, terlihat adanya kecenderungan bahwa Prabowo lebih banyak mengandalkan individu yang telah dikenalnya dalam waktu lama. 

Alumni Taruna Nusantara memiliki posisi yang unik karena sebagian dari mereka telah berada dalam jejaring sosial dan kepemimpinan yang relatif dekat dengan Prabowo selama bertahun-tahun. 

Demikian pula dengan kelompok yang dijuluki "Hambalang Boys", yang telah menunjukkan loyalitas politik sejak masa-masa ketika Prabowo belum menjadi presiden. Dalam konteks ini, loyalitas dan pengalaman bekerja bersama tampak menjadi variabel penting dalam proses rekrutmen elite.

Pilihan tersebut dapat dipahami sebagai strategi politik yang rasional. Presiden membutuhkan pembantu yang mampu menerjemahkan visi politiknya tanpa hambatan komunikasi maupun konflik kepentingan. 

Dalam sistem pemerintahan presidensial, keberhasilan implementasi kebijakan sangat dipengaruhi oleh kekompakan kabinet. Oleh karena itu, memilih individu yang telah memiliki rekam jejak hubungan panjang dapat mengurangi risiko pembangkangan internal serta meningkatkan koordinasi politik.

Namun, dari perspektif Fukuyama, dominasi lingkaran kepercayaan personal juga dapat dibaca sebagai indikasi terbatasnya radius kepercayaan (radius of trust). Fukuyama menjelaskan bahwa organisasi yang sehat seharusnya mampu memperluas kepercayaan kepada individu-individu yang berada di luar jaringan personal selama mereka memiliki kompetensi dan integritas. 

Ketika proses rekrutmen terlalu bertumpu pada hubungan kedekatan, organisasi berpotensi kehilangan kesempatan memperoleh sumber daya manusia terbaik dari luar kelompok inti.

Dalam kerangka tersebut, muncul interpretasi bahwa komposisi Kabinet Merah Putih mencerminkan kecenderungan kepemimpinan yang mengutamakan bonding social capital, yakni modal sosial yang dibangun melalui ikatan internal yang kuat. 

Modal sosial semacam ini memang efektif untuk menciptakan solidaritas dan loyalitas, tetapi tidak selalu optimal dalam menghasilkan inovasi maupun keberagaman perspektif. Sebaliknya, bridging social capital, yaitu kemampuan membangun kepercayaan lintas kelompok, justru memperluas kapasitas organisasi untuk menyerap gagasan baru dan memperkuat legitimasi institusional.

Di sisi lain, penting pula untuk menghindari penyimpulan yang terlalu sederhana bahwa keberadaan alumni Taruna Nusantara atau "Hambalang Boys" otomatis mencerminkan rendahnya kepercayaan Prabowo kepada orang lain. 

Menurut Fukuyama, hal itu berhubungan juga mengenai penghayatan dan pemahaman Prabowo terhadap demokrasi. Banyak dari mereka juga memiliki pengalaman birokrasi, militer, akademik, maupun profesional yang memadai untuk menduduki jabatan publik. 

Dengan demikian, kedekatan personal dan kompetensi tidak selalu merupakan dua hal yang saling bertentangan. Dalam praktik politik, keduanya sering kali hadir secara bersamaan sehingga sulit dipisahkan secara tegas.

Meski demikian, persepsi publik tetap dipengaruhi oleh pola distribusi jabatan. Semakin dominan kelompok yang berasal dari jaringan sosial yang sama, semakin kuat pula anggapan bahwa akses menuju posisi strategis bergantung pada kedekatan dengan pemimpin. 

Dalam jangka panjang, persepsi semacam ini dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap prinsip meritokrasi dalam pemerintahan. Fukuyama menekankan bahwa institusi modern yang kuat memerlukan kepercayaan terhadap aturan dan prosedur, bukan hanya terhadap figur pemimpin.

Tantangan utama pemerintahan Prabowo bukan sekadar membangun loyalitas internal, melainkan memperluas kepercayaan institusional. Keberhasilan pemerintahan akan sangat ditentukan oleh kemampuan mengubah kepercayaan personal menjadi kepercayaan terhadap lembaga negara. 

Apabila kabinet mampu menunjukkan kinerja yang profesional, transparan, dan akuntabel, maka keberadaan orang-orang dekat presiden akan dipandang sebagai pilihan yang efektif. Sebaliknya, apabila kedekatan personal lebih dominan daripada mekanisme merit dan akuntabilitas, maka kritik mengenai rendahnya radius of trust akan semakin menguat.

Teori Fukuyama menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah apakah seorang pemimpin mempercayai orang-orang terdekatnya, melainkan sejauh mana ia mampu memperluas kepercayaan tersebut menjadi fondasi institusi yang terbuka, inklusif, dan berbasis kompetensi. 

Fenomena menonjolnya alumni Taruna Nusantara dan "Hambalang Boys" di Kabinet Merah Putih dapat dipahami sebagai refleksi penting mengenai hubungan antara kepemimpinan, modal sosial, dan politik kepercayaan dalam demokrasi Indonesia kontemporer. 

 

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait