RayaAnalisis

Gempa Beruntun Guncang 5 Benua, Ini Dampaknya Jika Cincin Api Pasifik Benar-benar 'Bangun'

Sudjito | Kamis, 16 Juli 2026 | 13:25 WIB | 16 dibaca

JAKARTA-RAYA: Sepanjang Juni 2026, layar ponsel warganet di berbagai penjuru dunia riuh oleh notifikasi serupa, yakni gempa bumi. Dari Venezuela di Amerika Selatan, Jepang di Asia Timur, California Utara di pesisir barat Amerika Serikat, Filipina, hingga wilayah Indonesia Timur, kabar guncangan tanah datang silih berganti dalam rentang waktu yang berdekatan.

Linimasa media sosial dipenuhi cuplikan video getaran, laporan warga, dan spekulasi yang menyebar lebih cepat daripada gelombang seismik itu sendiri. Dari kegelisahan kolektif itu, muncul satu pertanyaan besar yang terus digaungkan publik, yakni benarkah Cincin Api Pasifik sedang "bangun" dan menjadi lebih aktif dari biasanya?

Pertanyaan itu dijawab tegas oleh anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono. Menurutnya, kekhawatiran publik memang wajar secara psikologis, tetapi tidak berdasar secara ilmiah.

"Secara ilmiah, sebenarnya tidak ada peningkatan aktivitas gempa yang tidak biasa di Cincin Api Pasifik. Cincin Api ini sebenarnya tidak pernah tidur, ia terus melepaskan energinya setiap hari, hanya saja tidak semuanya kita rasakan," ujar Daryono saat berbincang dengan RayaTimes, Rabu (15/7).

Klaim itu bukan tanpa dasar. Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire memang dikenal sebagai rumah bagi sekitar 90% gempa bumi di dunia, sehingga guncangan demi guncangan sesungguhnya merupakan aktivitas normal dan rutin di kawasan tersebut.

Merujuk data United States Geological Survey (USGS), badan survei geologi Amerika Serikat, tercatat sekitar 500.000 gempa bumi terdeteksi di seluruh dunia setiap tahun, termasuk gempa-gempa sangat kecil yang tidak dapat dirasakan manusia namun terekam instrumen seismik.

Dengan kontribusi 90% dari total tersebut, berarti sekitar 450.000 gempa terjadi di kawasan Cincin Api Pasifik setiap tahunnya. Jika dirata-rata, angka ini setara dengan sekitar 1.200 kali guncangan setiap hari di sepanjang jalur tersebut.

"Pada saat kita merasa kondisi sedang tenang, instrumen seismik di berbagai belahan dunia sebenarnya terus mencatat ribuan getaran kecil setiap harinya sebagai bagian dari aktivitas rutin planet bumi," jelas Daryono.

Akhir-akhir ini publik justru merasa frekuensi gempa belakangan ini meningkat drastis, seolah bumi sedang berulah lebih dari biasanya, tetapi Daryono menjelaskan, persepsi keliru itu lahir dari perpaduan tiga faktor yang saling menguatkan, yakni kebetulan waktu kejadian, kemajuan teknologi pemantauan, dan cara informasi tersebut sampai ke publik.

Faktor pertama adalah efek klasterisasi waktu, yakni kondisi ketika beberapa gempa signifikan kebetulan terjadi berdekatan dalam periode tertentu. Dalam kajian statistik dan seismologi, fenomena ini lumrah terjadi.

Setelah melewati fase yang tampak "sibuk", aktivitas kegempaan pada gilirannya akan memasuki fase yang kembali landai. Naik turunnya ritme tersebut merupakan fluktuasi alami dalam siklus pelepasan energi lempeng tektonik, bukan pertanda bahwa Cincin Api Pasifik sedang terbangun atau bergejolak lebih hebat dari biasanya.

Faktor kedua adalah bertambahnya jumlah dan sensitivitas stasiun pemantau gempa di seluruh dunia. Lembaga-lembaga seperti USGS, GFZ (Pusat Riset Geosains Jerman), EMSC (Pusat Seismologi Euro-Mediterania), maupun BMKG di Indonesia kini mampu mendeteksi gempa-gempa kecil atau yang terjadi di wilayah terpencil, yang beberapa dekade lalu luput dari catatan.

"Data yang terkumpul memang terlihat membengkak, tetapi itu terjadi karena kemampuan manusia dalam mendeteksi yang semakin baik, bukan karena buminya yang semakin aktif," tutur Daryono.

Saat Notifikasi Ponsel Berpacu Lebih Cepat

Faktor ketiga, dan yang paling terasa oleh masyarakat awam, adalah kecepatan arus informasi digital. Dahulu, gempa bermagnitudo 6,0 yang terjadi di pelosok Tonga, Kamchatka, Chili, atau lepas pantai Jepang, mungkin hanya menjadi catatan internal para seismolog dan tidak banyak diketahui publik luas.

Kini, begitu satu guncangan signifikan terjadi, notifikasi dari aplikasi pemantau gempa langsung berbunyi di jutaan ponsel, lalu kabarnya menyebar lewat grup percakapan, seperti WhatsApp serta berbagai platform media sosial seperti X, Facebook, dan Instagram hanya dalam hitungan menit.

Kecepatan distribusi informasi inilah yang, menurut Daryono, menciptakan ilusi optik seolah frekuensi gempa meningkat tajam.

"Kecepatan informasi ini menciptakan ilusi optik seolah-olah frekuensi gempa sedang meningkat tajam, padahal yang meningkat adalah intensitas pemberitaannya," ungkapnya.

Dengan kata lain, yang sesungguhnya bertambah bukan jumlah gempanya, melainkan intensitas pemberitaan dan keterpaparan publik terhadap peristiwa tersebut.

Penjelasan ilmiah ini penting disampaikan bukan sekadar untuk meluruskan persepsi, melainkan agar publik tidak terjebak pada kepanikan kolektif yang justru berpotensi memicu misinformasi lebih luas dan merugikan secara psikologis maupun sosial.

Sebab, kecemasan yang dibangun di atas asumsi keliru dapat mendorong orang mengambil keputusan tidak rasional, mulai dari menyebarkan hoaks hingga mengabaikan mitigasi bencana yang sesungguhnya lebih mendesak untuk diperhatikan.

Ke depan, jika rentetan gempa serupa kembali terjadi dan viral di media sosial, publik diimbau untuk lebih dahulu memverifikasi informasi melalui sumber resmi, seperti BMKG, USGS, atau lembaga geologi terpercaya lainnya, alih-alih langsung menyimpulkan adanya perubahan besar pada aktivitas Cincin Api Pasifik.

Sebaliknya, jika edukasi semacam ini tidak digalakkan secara konsisten, bukan tidak mungkin persepsi keliru akan terus berulang setiap kali dua atau tiga gempa besar kebetulan terjadi berdekatan, dan pada akhirnya menumbuhkan kecemasan publik yang tidak proporsional dengan risiko sebenarnya, bahkan berpotensi menutupi perhatian terhadap upaya kesiapsiagaan bencana yang justru lebih dibutuhkan.

Zona Megathrust Indonesia di Jalur Cincin Api Pasifik

Di tengah sorotan pada Cincin Api Pasifik secara global, ada kekhawatiran lebih spesifik yang membayangi Indonesia, yakni keberadaan zona megathrust di sepanjang jalur pertemuan lempeng tektonik yang mengelilingi Nusantara. Berbeda dari isu "bangunnya" Cincin Api Pasifik yang menurut Daryono tidak berdasar, potensi megathrust ini justru merupakan risiko nyata yang sejak lama menjadi perhatian serius Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Secara geologis, Indonesia berada tepat di titik pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Pertemuan tiga lempeng raksasa inilah yang menempatkan Indonesia sebagai bagian dari jalur Cincin Api Pasifik sekaligus salah satu kawasan dengan potensi gempa megathrust tertinggi di dunia.

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia edisi terbaru, BMKG bersama para ahli kegempaan memetakan 14 zona megathrust di sekitar wilayah Indonesia, bertambah satu zona dibandingkan peta edisi 2017 yang mencatat 13 zona. Beberapa segmen dengan potensi magnitudo maksimum terbesar di antaranya:

  • Megathrust Aceh-Andaman - potensi magnitudo maksimum 9,2
  • Megathrust Jawa - potensi magnitudo maksimum 9,1
  • Megathrust Nias-Simeulue - potensi magnitudo maksimum 8,7
  • Megathrust Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano - masing-masing berpotensi mencapai magnitudo 8,9
  • Megathrust Sulawesi Utara - potensi magnitudo maksimum 8,5

Yang menjadi perhatian khusus BMKG adalah kondisi seismic gap, yaitu zona yang sudah sangat lama tidak melepaskan energi gempa besar sehingga berpotensi menyimpan akumulasi energi dalam jumlah besar. Dua wilayah yang paling disorot adalah Segmen Selat Sunda, yang terakhir kali melepaskan gempa besar pada 1757, dan Segmen Mentawai-Siberut, yang tidak menunjukkan aktivitas signifikan sejak gempa tahun 1797.

Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa informasi mengenai zona megathrust bukanlah ramalan waktu terjadinya gempa. Istilah "tinggal menunggu waktu" yang sering dikutip media kerap disalahpahami sebagai prediksi, padahal maksudnya adalah potensi geologis berdasarkan data sejarah dan kajian ilmiah, bukan kepastian kapan gempa akan terjadi, karena hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara akurat waktu dan lokasi gempa.

BMKG juga mengingatkan bahwa dampak fisik dan korban jiwa dalam gempa-gempa yang terjadi belakangan ini justru lebih sering diakibatkan oleh sesar aktif di daratan (gempa kerak dangkal), seperti Sesar Sumatera, Sesar Palu-Koro, Sesar Cimandiri, Sesar Baribis, dan Sesar Opak, ketimbang oleh megathrust itu sendiri. Sesar-sesar ini memiliki magnitudo yang lebih kecil dibanding megathrust, namun daya rusaknya bisa sangat tinggi karena pusat gempa berada sangat dekat dengan permukaan dan permukiman warga.

Dengan data ini, publik diharapkan memahami perbedaan antara dua isu yang sering tertukar: kekhawatiran soal Cincin Api Pasifik yang "bangun" secara global (tidak berdasar secara ilmiah) dan risiko megathrust di Indonesia (nyata secara geologis, namun bukan berarti akan terjadi dalam waktu dekat). Kesiapsiagaan berbasis data, bukan kepanikan, tetap menjadi kunci menghadapi kedua isu tersebut.

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait