RayaInternasional

Myanmar Jadi PR ASEAN, Perpecahan Sikap Muncul di Pertemuan Menlu

Anton | Rabu, 22 Juli 2026 | 15:24 WIB | 1 dibaca

MANILA-RAYA: Isu-isu yang berkaitan dengan Myanmar kembali menjadi salah satu agenda paling sensitif dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) yang berlangsung di Manila, Filipina, hingga Sabtu (25/7). Terutama untuk kembali mengizinkan negara tersebut mengikuti agenda-agenda pimpinan negara-negara Asia Tenggara.

            Lima tahun setelah kudeta militer yang terjadi pada 2021, Myanmar masih belum diizinkan mengikuti pertemuan tingkat tinggi ASEAN karena belum ada kemajuan berarti dalam implementasi konsensus perdamaian lima poin yang disepakati organisasi tersebut.

            Pada pertemuan para pemimpin ASEAN di Cebu pada Mei lalu, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyerukan perlunya "penyempurnaan" terhadap rencana perdamaian lima poin yang selama ini dinilai belum mampu menghentikan perang saudara di Myanmar.

Thailand menjadi negara yang paling aktif mendorong agar Myanmar kembali diintegrasikan secara penuh ke dalam ASEAN. Negara itu memiliki perbatasan langsung dengan Myanmar sekaligus menampung jutaan pengungsi akibat konflik.

            Dalam wawancara dengan AFP, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan ASEAN perlu memiliki ukuran yang lebih realistis dalam menilai perkembangan situasi Myanmar.

            "Pandangan kami adalah bahwa kita harus bersikap realistis. Ini tidak akan terjadi dalam semalam. Kemajuan akan datang secara bertahap," ujarnya.

            Meski demikian, sejumlah negara anggota ASEAN belum menunjukkan keinginan untuk melonggarkan sikap terhadap junta Myanmar. Setelah lima tahun menjalankan rencana perdamaian tanpa hasil yang signifikan, banyak anggota menilai belum ada alasan untuk mengubah pendekatan yang selama ini diterapkan.

            Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan bahkan menegaskan negaranya masih menolak pembicaraan tingkat tinggi dengan Myanmar. "Kami tetap menolak pembicaraan tingkat tinggi selama penindasan masih terus berlangsung," tegas Mohamad Hasan pada Mei lalu.

            Pertemuan di Manila diperkirakan akan kembali menguji soliditas ASEAN dalam mencari jalan keluar atas konflik Myanmar, di tengah perbedaan pandangan di antara negara-negara anggotanya mengenai kapan dan bagaimana Myanmar dapat kembali diterima sepenuhnya dalam forum regional tersebut. (*)

 

Komentar (0)

lock

Login untuk berkomentar

Belum ada komentar.

RayaSport

Indeks

Berita Terkait