Laut China Selatan Memanas, Rivalitas AS-China Bayangi Pertemuan Menlu ASEAN
MANILA-RAYA: Ketegangan di Laut China Selatan menjadi salah satu isu utama yang membayangi Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Foreign Ministers' Meeting/AMM). Pertemuan tersebut berlangsung di Manila, Filipina, hingga Sabtu (25/7).
Situasi memanas setelah Amerika Serikat (AS) mengecam tindakan China yang disebut "berbahaya" di perairan sengketa tersebut. Apalagi aksi itu hanya beberapa menit setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tiba di Manila.
Rubio dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Rabu (22/7) di sela-sela rangkaian pertemuan ASEAN. Pertemuan itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing, termasuk tuduhan Presiden Donald Trump bahwa China ikut mencampuri data pemilu Amerika Serikat.
Dalam artikel opini yang diterbitkan di Filipina, Rubio menegaskan komitmen Washington menjaga kebebasan navigasi di Asia Tenggara. "Kebebasan ini sama sekali tidak terjamin. Jika perairan ini jatuh di bawah kendali kekuatan yang bersedia menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik, maka Amerika Serikat maupun negara-negara ASEAN akan menghadapi ancaman baru yang serius terhadap kedaulatan, keamanan, dan masa depan ekonomi mereka," tulis Rubio.
China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan sebagai bagian dari kedaulatannya, meskipun putusan pengadilan internasional telah menyatakan klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum.
Ketegangan semakin meningkat setelah pelaut Filipina dan China bentrok di Second Thomas Shoal pada Senin (20. Manila menuduh personel Penjaga Pantai China menyerang pelaut Filipina di dekat kapal yang dijadikan pos militer di kawasan sengketa.
Sebaliknya, Beijing menyatakan Filipina memicu insiden dengan mengirim personel menggunakan perahu karet mendekati kapal China.
Bentrokan tersebut semakin memperkecil harapan tercapainya Code of Conduct (CoC) atau kode etik Laut China Selatan yang telah lama dirundingkan ASEAN dan China. Meski demikian, Duta Besar China untuk Filipina menyatakan masih optimistis kesepakatan dapat dicapai sebelum akhir tahun.
Selain Laut China Selatan, para menteri luar negeri negara-negara Asia Tenggara juga dijadwalkan membahas dampak konflik di Selat Hormuz terhadap ketahanan energi kawasan. (*)
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.