2 Tentara AS Tewas, Trump Langsung Gempur Iran
AMMAN-RAYA: Konflik terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak yang lebih berbahaya. Serangan rudal balistik dan drone Iran ke pangkalan militer AS di Yordania menewaskan dua prajurit Amerika, memicu serangan balasan besar-besaran yang diperintahkan Presiden Donald Trump.
Serangan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania menandai eskalasi paling mematikan dalam konflik kedua negara dalam beberapa waktu terakhir. Dua personel militer Amerika gugur, satu lainnya dinyatakan hilang, sementara Washington langsung membalas dengan menggempur sasaran militer Iran.
Menurut Laporan NBC News, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) mengonfirmasi kedua prajurit tewas ketika bersama pasukan sekutu berusaha menghalau rentetan rudal balistik dan serangan drone yang diluncurkan Iran pada Jumat (17/7) waktu setempat.
Hingga kini, militer AS belum mengungkap lokasi pasti pangkalan yang menjadi target maupun identitas para korban. Informasi tersebut akan disampaikan setelah seluruh keluarga menerima pemberitahuan resmi.
Tidak lama setelah kabar korban jiwa diterima, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan operasi balasan terhadap Iran.
Pada Sabtu (18/7) sekitar pukul 18.00 waktu Amerika Serikat, jet-jet tempur AS mulai melancarkan serangan udara ke sejumlah sasaran militer Iran.
Dalam pernyataan resminya, Centcom menyebut operasi tersebut dirancang untuk memberikan "hukuman cepat" kepada pasukan Iran yang bertanggung jawab atas serangan mematikan itu.
Washington juga menegaskan serangan tersebut memiliki tujuan strategis lain, yakni mengurangi kemampuan Iran mengancam lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Selain dua prajurit yang tewas, empat personel militer Amerika mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Mereka sempat menjalani perawatan di rumah sakit di Yordania sebelum akhirnya diperbolehkan kembali ke satuan masing-masing.
Sementara itu, seorang personel lainnya masih dinyatakan hilang. Hingga Sabtu malam, proses pencarian masih berlangsung.
Beberapa anggota militer lain yang mengalami luka ringan telah kembali menjalankan tugas.
Perang Bayangan
Serangan ke Yordania memperlihatkan bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran telah berubah menjadi konfrontasi militer yang semakin terbuka.
Sejak gencatan senjata sementara runtuh, kedua negara nyaris setiap hari saling melancarkan serangan.
Iran meningkatkan tekanan dengan menembakkan rudal balistik dan drone ke berbagai instalasi militer Amerika Serikat serta negara-negara sekutunya di Timur Tengah, termasuk Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Sebaliknya, Amerika Serikat terus memperluas operasi militernya dengan menggempur berbagai fasilitas pertahanan, gudang persenjataan, dan sasaran strategis milik Iran.
Pemerintah Yordania menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone Iran yang diarahkan ke pangkalan militer Amerika di wilayah negara tersebut.
Pada sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim serangan mereka berhasil menghancurkan sedikitnya dua jet tempur Amerika Serikat.
Klaim tersebut disampaikan melalui kantor berita semiresmi Tasnim. Namun hingga kini pemerintah Amerika Serikat belum mengonfirmasi maupun membenarkan pernyataan itu, sementara belum ada bukti independen yang dapat memverifikasinya.
Insiden di Yordania menjadi pukulan paling serius bagi militer Amerika sejak konflik dengan Iran kembali memanas.
Dengan korban jiwa di kedua pihak mulai berjatuhan dan serangan balasan terus berlangsung, kekhawatiran akan meluasnya perang ke berbagai negara di Timur Tengah semakin menguat.
Jalur pelayaran internasional, stabilitas kawasan, hingga pasokan energi global kini berada dalam bayang-bayang eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.