Masuki Hari ke-11, Biaya Perang AS-Iran Capai Rp 669 T
WASHINGTON-RAYA: Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase baru setelah biaya operasi militer Washington mencapai USD 37,5 miliar atau sekitar Rp 669 triliun. Di tengah tekanan politik domestik, Presiden Donald Trump menegaskan operasi terhadap Teheran belum berakhir meski dorongan untuk menghentikan konflik semakin kuat.
Konflik yang telah berlangsung hampir lima bulan itu menjadi beban besar bagi anggaran pertahanan AS. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut biaya perang terus meningkat dan menjadi alasan pemerintah meminta tambahan puluhan miliar dolar untuk kebutuhan militer.
Selain persoalan anggaran, perang tersebut juga memicu perdebatan politik di dalam negeri. Menjelang pemilihan legislatif November, Trump menghadapi tekanan dari sejumlah pihak yang mempertanyakan keberlanjutan operasi militer karena konflik tersebut tidak populer bahkan di sebagian pendukungnya.
Trump Pertahankan Operasi Militer
Trump menegaskan AS belum akan menghentikan serangan terhadap Iran. Menurut dia, kerusakan yang dialami Teheran akibat perang akan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan.
"Jika kami pergi sekarang, Iran membutuhkan waktu 20 atau 25 tahun untuk membangun kembali," ujar Trump.
Militer AS menyatakan serangan terbaru diarahkan terhadap infrastruktur logistik militer Iran. Operasi tersebut disebut bertujuan mengurangi kemampuan Teheran mengancam kapal komersial di Selat Hormuz.
Serangan terbaru itu menjadi malam ke-11 secara berturut-turut operasi militer AS terhadap Iran. Washington juga mengisyaratkan kemungkinan memperluas target ke kompleks bawah tanah Pickaxe Mountain di dekat Natanz yang diduga terkait aktivitas pengayaan uranium Iran.
Diplomasi Masih Dibuka
Meski operasi militer terus berjalan, Washington menyatakan jalur diplomasi belum tertutup. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pemerintah masih membuka peluang kesepakatan dengan Teheran.
"Masalah yang kami hadapi saat ini adalah mereka tidak menganggap serius proses negosiasi," ujar Rubio dalam pertemuan menteri luar negeri Asia Tenggara di Manila.
Iran juga menyatakan komunikasi diplomatik melalui mediator masih berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan pertukaran pesan dengan Washington tetap berjalan meski konflik bersenjata terus berlanjut.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan kedua negara menemukan titik temu. Jika pertempuran berlanjut, tekanan terhadap anggaran AS dan stabilitas kawasan diperkirakan akan semakin besar. (*)
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.