Gedung Putih Bela Argentina, Inggris Murka Soal Malvinas
ATLANTA-RAYA: Kemenangan Argentina atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026, Kamis (16/7) berbuntut panjang. Selebrasi pemain dengan membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" memicu ketegangan diplomatik setelah Gedung Putih membela aksi tersebut, sementara Inggris mendesak FIFA menjatuhkan sanksi.
Kemenangan dramatis Argentina 2-1 atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026 tidak hanya memastikan tiket ke partai final. Selebrasi para pemain seusai laga justru memantik polemik internasional setelah mereka mengangkat slogan yang menegaskan klaim Argentina atas Kepulauan Falkland.
Aksi tersebut langsung menggeser sorotan dari lapangan hijau ke arena diplomasi. Pemerintah Inggris menilai pesan politik itu tidak semestinya muncul dalam ajang sepak bola dunia dan mendesak FIFA segera mengambil tindakan.
Namun, di tengah tekanan dari London, Gedung Putih justru mengambil sikap berbeda. Kepala Gugus Tugas FIFA Gedung Putih, Andrew Giuliani, menegaskan Amerika Serikat menghormati hak kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi.
"Kami percaya pada hak yang dijamin Amendemen Pertama di Amerika Serikat," kata Giuliani dilansir dari The Guardian, Minggu (19/7).
Menurut dia, para pemain Argentina berhak menyampaikan pandangan mereka selama berada di wilayah Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Washington tidak melihat aksi para pemain Argentina sebagai pelanggaran terhadap kebebasan berpendapat. Sikap itu sekaligus bertolak belakang dengan tuntutan pemerintah Inggris yang meminta FIFA menyelidiki insiden tersebut.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mendukung penyelidikan FIFA. Melalui juru bicaranya, Starmer menegaskan posisi Inggris atas Kepulauan Falkland tetap tidak berubah.
"Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami. Hak menentukan nasib sendiri berada di tangan penduduk pulau dan komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah," ujar juru bicara Starmer.
Meski menyampaikan harapan agar final berlangsung sukses, pemerintah Inggris secara terbuka memberikan dukungan kepada Spanyol yang akan menghadapi Argentina pada laga puncak Piala Dunia.
Desakan agar FIFA bertindak juga disampaikan Menteri Bisnis Inggris Peter Kyle. Ia menyebut pengangkatan spanduk Malvinas sebagai pelanggaran terhadap prinsip dasar sepak bola internasional yang memisahkan olahraga dari kepentingan politik.
"Politik harus dipisahkan dari sepak bola. Sekarang persoalan ini menjadi kewenangan FIFA dan saya berharap penyelidikannya dilakukan secara menyeluruh," kata Kyle.
Menanggapi kontroversi tersebut, FIFA memastikan Komite Disiplin independennya tengah memeriksa laporan pertandingan beserta seluruh fakta yang berkaitan sebelum memutuskan apakah akan mengambil langkah disipliner sesuai Kode Disiplin FIFA.
Bukan Kali Pertama
Kontroversi slogan bernuansa teritorial bukan kali pertama terjadi di panggung sepak bola Eropa maupun dunia. Pada Euro 2024, UEFA menjatuhkan sanksi larangan bermain satu pertandingan kepada dua pemain Spanyol, Rodri dan Álvaro Morata, setelah meneriakkan slogan "Gibraltar is Spanish" saat perayaan gelar juara.
Kasus tersebut kini menjadi salah satu rujukan yang dapat dipertimbangkan FIFA dalam menangani polemik yang melibatkan Argentina.
Spanduk yang dibentangkan para pemain Argentina bukan sekadar simbol selebrasi. Kalimat "Las Malvinas son Argentinas" merepresentasikan sengketa kedaulatan yang telah berlangsung puluhan tahun antara Argentina dan Inggris.
Konflik memuncak pada 1982 ketika Argentina menginvasi Kepulauan Falkland. Perang yang berlangsung sekitar 10 pekan itu menewaskan lebih dari 900 orang sebelum Inggris berhasil merebut kembali wilayah tersebut.
Hingga kini kedua negara tetap mempertahankan klaim masing-masing. Inggris menguasai administrasi Kepulauan Falkland, sementara Argentina terus menyatakan wilayah itu merupakan bagian dari kedaulatannya.
Ketegangan bahkan kembali meningkat beberapa pekan terakhir setelah pemerintah Argentina memprotes pelayaran kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris HMS Medway yang disebut melintasi perairannya tanpa izin ketika berlayar dari Falkland menuju Cile.
London membantah tuduhan tersebut. Pemerintah Inggris menyatakan pelayaran HMS Medway telah diberitahukan kepada pemerintah Argentina sebelumnya dan dilakukan untuk mendukung operasi logistik British Antarctic Survey menuju Antarktika.
Dengan final Piala Dunia tinggal menghitung hari, polemik Malvinas menunjukkan bahwa rivalitas Argentina dan Inggris belum sepenuhnya berakhir di lapangan sepak bola. Kemenangan pada semifinal justru membuka kembali luka geopolitik yang telah membara selama lebih dari empat dekade.
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Belum ada komentar.